opportunity cost

sains di balik hal yang kita korbankan setiap kali mengambil satu pilihan

opportunity cost
I

Pernahkah kita menghabiskan waktu 45 menit di depan TV, sibuk scrolling katalog Netflix, lalu berujung tidur tanpa menonton apa-apa? Atau mungkin saat di restoran, kita sudah memesan nasi goreng, tapi mata kita terus melirik mie tek-tek yang dipesan meja sebelah. Saya sendiri sangat sering mengalaminya. Rasanya selalu ada penyesalan kecil yang diam-diam merayap masuk. Padahal, nasi goreng di piring kita rasanya enak. Film yang akhirnya kita putar juga tidak jelek-jelek amat. Lalu, kenapa kita sering merasa ada yang mengganjal setiap kali harus mengambil satu keputusan di antara banyak pilihan?

II

Dalam ilmu ekonomi dasar, keluhan sepele yang sering kita alami ini punya nama yang cukup mentereng: opportunity cost atau biaya peluang. Singkatnya, ini adalah nilai dari alternatif terbaik yang kita korbankan saat kita mengambil sebuah keputusan. Logikanya sederhana. Saat kita memilih A, kita otomatis harus "membunuh" kemungkinan B, C, dan D. Namun, mari kita jujur. Teori ekonomi ini terasa terlalu kaku dan kering untuk menjelaskan perasaan cemas yang sering kita rasakan. Teman-teman pasti setuju, memilih jurusan kuliah, jalur karier, atau bahkan menentukan dengan siapa kita akan menghabiskan sisa hidup, rasanya jauh lebih berat dari sekadar hitung-hitungan untung rugi di atas kertas. Ada sesuatu yang bergejolak di dalam kepala kita. Sesuatu yang membuat setiap pilihan, sebaik apa pun itu, selalu menyisakan aroma kehilangan.

III

Pertanyaannya, kenapa otak kita mendramatisir hal ini? Kenapa memilih satu hal yang baik terasa seolah kita sedang berkhianat pada kemungkinan lain yang sama baiknya? Mari kita mundur sejenak ke masa lalu. Ribuan tahun lalu, leluhur kita tidak punya kemewahan bernama pilihan. Menu makan malam mereka biasanya hanya dua: berhasil berburu rusa atau terpaksa mengunyah buah beri liar. Tapi hari ini, kita dihujani puluhan ribu pilihan setiap harinya. Otak kita, yang secara biologis masih memiliki hardware yang sama dengan manusia purba pemburu-pengumpul, tiba-tiba dipaksa memproses beban informasi yang tidak pernah didesain untuknya. Ada sebuah ironi besar di sini. Kita berpikir kebebasan memilih akan membawa kebahagiaan. Namun, mengapa saat momen pengambilan keputusan itu tiba, kepala kita justru terasa penuh dan menyakitkan? Apa yang sebenarnya sedang terjadi di balik tengkorak kita?

IV

Di sinilah sains memberikan jawaban yang sangat menarik. Saat kita dihadapkan pada sebuah pilihan, otak kita tidak sekadar menimbang logika layaknya kalkulator. Ada area di otak bernama amygdala—pusat pemrosesan rasa takut dan ancaman—yang ikut menyala. Dalam psikologi evolusioner dan ekonomi perilaku, kita mengenal hukum loss aversion (penghindaran kerugian). Manusia secara genetis diprogram untuk jauh lebih membenci sebuah kehilangan daripada menyukai sebuah keuntungan dengan nilai yang sama.

Menariknya, konsep opportunity cost yang pertama kali dicetuskan oleh ekonom Austria, Friedrich von Wieser pada tahun 1914, ternyata punya dasar neurologis yang kuat. Saat kita memilih nasi goreng, otak kita secara aktif menghitung "kerugian" karena gagal memakan mie tek-tek. Secara harfiah, sistem saraf kita memproses hilangnya opsi tersebut layaknya sebuah rasa sakit yang nyata. Setiap kali kita mengambil keputusan, kita sebenarnya sedang mengalami patah hati mikro. Kita tanpa sadar meratapi versi realitas alternatif yang tidak jadi kita jalani. Hormon dopamin kita, yang biasanya bertugas memberi sensasi kesenangan, justru mengalami gangguan yang disebut prediction error karena otak sibuk memikirkan kenikmatan dari opsi yang baru saja kita tinggalkan. Jadi, perasaan cemas atau galau saat memilih itu bukan karena kita lemah atau labil. Itu murni karena biologi otak kita sedang kewalahan menghitung "pajak" dari hal-hal yang tidak terlihat.

V

Memahami cara kerja sains di balik layar ini sungguh melegakan, setidaknya buat saya pribadi. Kita akhirnya belajar bahwa keraguan adalah hal yang sangat wajar dan manusiawi. Setiap pilihan memang selalu dan akan selamanya membawa hantu dari pilihan-pilihan yang tidak kita ambil. Namun, justru di situlah letak keindahan dari sebuah otonomi. Teman-teman, realitas alternatif di mana kita mengambil keputusan yang berbeda mungkin selalu tampak lebih sempurna di dalam kepala kita. Mengapa? Tentu saja karena realitas itu tidak pernah benar-benar terjadi, sehingga ia tidak punya ruang untuk menjadi cacat. Tapi ingatlah, kehidupan hanya bisa dirasakan, disentuh, dan dinikmati di dunia nyata, lengkap dengan segala kekacauan dan kekurangannya.

Jadi, esok hari saat kita kembali dihadapkan pada persimpangan—entah itu sekadar memilih menu sarapan pagi atau menentukan arah karier masa depan—tariklah napas dalam-dalam. Rangkul patah hati mikro tersebut. Pilihlah satu jalan dengan berani, biarkan jalan-jalan yang lain memudar menjadi bayangan, dan percayalah bahwa kita sedang menulis cerita terbaik di satu-satunya realitas yang benar-benar kita miliki.